KHDTK Padekanmalang
KHDTKPM
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Padekanmalang merupakan kawasan hutan seluas ±21,54 ha yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 493 Tahun 2025 tanggal 4 September 2025, dan kini dikelola oleh Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) sebagai KHDTK pada kawasan Hutan Produksi Tetap di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kawasan yang terletak di Desa Paowan, Kecamatan Panarukan ini memiliki sejarah pengelolaan sejak tahun 1952 dan berfungsi untuk litbang kehutanan, pendidikan/diklat, religi-budaya, konservasi genetik, dan model pengelolaan hutan dataran rendah kering, didukung infrastruktur berupa warekit, peta kerja, pal batas kawasan, akses jalan, dan fasilitas lapangan Dengan mandat baru ini, P2SEMH memfokuskan pengelolaan KHDTK Padekanmalang sebagai Model Ekoeduwisata Hutan Dataran Rendah Kering melalui pengelolaan kawasan untuk penyangga pelestarian alam dan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat melalui penguatan fungsi konservasi dan wisata ilmiah.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSecara biofisik, KHDTK Padekanmalang merupakan ekosistem dataran rendah kering yang telah diperkaya sejak 1950-an dengan lebih dari 84 jenis tanaman hasil koleksi penelitian maupun penanaman, termasuk sengon buto, mimba, kepuh, asem jawa, kesambi, jati, khaya, akasia, cendana, dan araucaria Vegetasi tua dan permudaan alami yang baik memberikan struktur tegakan yang menyerupai hutan primer berskala kecil, sementara satwa liar yang tercatat meliputi landak, musang/luwak, tupai, garangan, kelelawar, beragam reptil (termasuk biawak, ular pucuk, ular kobra, ular weling, sanca kembang), amfibi, serta sedikitnya 13 jenis burung seperti elang, ayam hutan hijau, kepodang, raja udang Jawa, dan kedasih Keanekaragaman ini menjadikan kawasan berfungsi sebagai plasma nutfah, arboretum, dan lokasi pendidikan keanekaragaman hayati.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKawasan ini memiliki potensi kuat sebagai sumber benih TBT untuk jenis sengon buto, mimba, kepuh, dan asem jawa, sekaligus ruang litbang, wisata ilmiah, pendidikan, diklat kepemimpinan, forest healing, dan kegiatan budaya masyarakat seperti lintas alam dan kegiatan sekolah Masyarakat sekitar memanfaatkan hasil hutan bukan kayu terutama buah asem, biji sengon buto, dan biji kepuh yang jatuh di lantai hutan:Asem (Tamarindus indica) → dikumpulkan dan dijual ke pasar sebagai bahan bumbu dapur;Biji sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) → dikonsumsi sebagai makanan kecil/kudapan;Biji kepuh (Sterculia foetida) → dikonsumsi sebagai camilan setelah diolah oleh masyarakat setempat;Selain manfaat ekonomi langsung tersebut, masyarakat juga terlibat dalam kegiatan pemeliharaan dan penataan kawasan, sementara proses kemitraan wisata alam sedang dirintis melalui kolaborasi P2SEMH – BUMDes Berjaya Paowan – Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo sebagai upaya memperkuat manfaat ekonomi lokal secara formal dan berkelanjutan. Dengan mandat pengelolaan baru, kawasan ini sangat potensial menjadi model penggabungan konservasi genetik, jasa lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis hutan.
-7.7134,
113.9704