Selamat datang di KMS Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan
Menu
Form Pencarian berdasarkan kata kunci
KHDTK Gunungkidul Blok Playen
KHDTK Gunungkidul Blok Playen
KHDTKGBP
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Gunungkidul Blok Playen seluas ±102,5 hektare merupakan pusat penelitian dan pengembangan hutan tanaman dataran rendah kering pada bentang karst Gunungkidul. Kawasan ini menjadi lokasi pembibitan, pemuliaan tanaman, dan pengujian keturunan untuk berbagai jenis bernilai ekonomi seperti akasia, kayu putih, jati, dan aren. Fungsi utamanya adalah menyediakan sumber benih unggul untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, penelitian kehutanan, praktikum dan pendidikan, hingga pelatihan teknis silvikultur dan agroforestry. Tegakan uji yang telah dikembangkan sejak awal pembentukan kawasan kini menjadi referensi penting bagi pemuliaan genetik dan peningkatan produktivitas hutan tanaman pada wilayah lahan kering.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSebagai bagian dari lanskap karst DIY dengan tipe iklim kering dan dominasi tanah dangkal berbahan induk batugamping, KHDTK Playen berfungsi sebagai laboratorium ekosistem lahan kering dan ruang konservasi keanekaragaman hayati tanaman hutan bernilai ekonomi. Tegakan akasia, kayu putih, jati, dan aren bukan hanya berperan sebagai koleksi genetik, tetapi juga sebagai model pembelajaran ketahanan tanaman terhadap cekaman iklim, kekeringan, dan degradasi lahan. Vegetasi hasil penelitian ini berkontribusi terhadap peningkatan cadangan karbon vegetasi, perlindungan tanah dan air, serta penguatan fungsi ekologis bentang alam karst. Peran KHDTK sebagai salah satu simpul restorasi berbasis ilmu pengetahuan tercermin dalam program FOLU Net Sink dan RBC (Result Based Contribution) yang terus dikembangkan untuk memperluas keberhasilan rehabilitasi lahan kering.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKHDTK Playen memainkan peran strategis dalam hubungan sosial–ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), terutama minyak kayu putih. Keberadaan unit penyulingan minyak kayu putih telah membuktikan kemampuan kawasan sebagai simpul ekonomi masyarakat berbasis hutan, dengan keterlibatan aktif Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam penyediaan daun, perawatan tegakan, dan pemanfaatan ruang kelola sosial secara legal dalam batas kawasan. Selain penyulingan atsiri, pemberdayaan masyarakat berkembang melalui agroforestry lahan kering dan pengembangan HHBK lainnya. Arah pengembangan sosial ekonomi yang dapat dilaksanakan di KHDTK Playen berupa peningkatan produktivitas tegakan benih, optimalisasi HHBK bernilai ekonomi, penguatan kelembagaan KTH, pengendalian risiko kebakaran, serta pengembangan ekowisata pendidikan kehutanan dan wisata penyulingan untuk memperkuat kontribusi riset, konservasi, ekonomi masyarakat, dan PNBP. Kombinasi elemen-elemen tersebut menjadikan KHDTK Playen sebagai model pengembangan sosial ekonomi masyarakat melalui pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat untuk ekosistem kering berkapur di Indonesia.
-7.9428, 110.5500

KHDTK Gunungkidul Blok Watusipat
KHDTK Gunungkidul Blok Watusipat
KHDTKGBW
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Gunungkidul Blok Watusipat merupakan kawasan percontohan pengelolaan hutan di ekosistem karst dan hutan musim (monsoon forest) dengan luas ±10,4 hektare. Sejak pembentukannya, Watusipat difungsikan sebagai lokasi penelitian dan konservasi sumber daya genetik tanaman hutan asli lahan kering, khususnya cendana (Santalum album), jati, dan nyamplung. Kawasan ini menjadi aset penting dalam kegiatan pemuliaan dan konservasi genetik, uji klon/provenans, serta pembelajaran silvikultur pada lahan marginal. Karena posisi biofisiknya berada pada zona karst dengan curah hujan musiman yang ekstrem, Watusipat digagas sebagai laboratorium alam untuk mengembangkan model pengelolaan hutan berkelanjutan pada bentang lahan kering berkapur di Daerah Istimewa Yogyakarta.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiWatusipat berada di lanskap karst dengan profil tanah dangkal, drainase cepat, dan tingkat kekeringan yang tinggi, sehingga seluruh tegakan dan model penanaman di kawasan ini dirancang untuk menghadapi cekaman iklim dan keterbatasan air. Koleksi cendana dari berbagai provenans, tegakan jati uji klon, dan pohon nyamplung berperan sebagai bank plasma nutfah monsoon forest. Selain fungsi konservasi genetik, kawasan ini juga mendukung habitat bagi serangga penyerbuk, burung pemakan biji, dan mamalia kecil yang beradaptasi dengan hutan musim. Keberhasilan menjaga keberlanjutan vegetasi di Watusipat menjadi bukti penting bahwa hutan tanaman produktif tetap dapat berkembang pada lahan karst jika dikelola melalui pendekatan ilmiah dan teknologi silvikultur yang tepat.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKHDTK Watusipat memiliki potensi besar sebagai pusat produksi benih dan bahan tanam unggul untuk program rehabilitasi lahan kering, pemulihan ekosistem karst, dan budidaya tanaman bernilai ekonomi seperti cendana dan jati. Di tingkat tapak, keterlibatan masyarakat semakin terbuka melalui pengembangan budidaya lebah madu, pemanfaatan HHBK potensial, dan kegiatan agroforestry adaptif musiman. Arah pengembangan dalam pengelolaan KHDTK Watusipat menggariskan peluang perluasan manfaat kawasan melalui pendidikan kehutanan, riset konservasi karst, penyediaan benih bersertifikat, hingga ekowisata edukatif berbasis “hutan musim tropis”. Tantangan pengelolaan mencakup penguatan kelembagaan petani hutan, peningkatan sistem perlindungan dari kebakaran dan gangguan, serta penyelesaian masalah batas dan akses agar model pengelolaan ekosistem karst dan hutan musim dapat berkembang secara berkelanjutan dengan manfaat ilmiah, ekologis, dan sosial yang seimbang.
-7.9930, 110.5579

KHDTK Kaliurang
KHDTK Kaliurang
KHDTKK
Profil dan Keberadaan KawasanKawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Litbang Kehutanan Kaliurang dibangun sejak 1958 sebagai pusat penelitian dan pengembangan kehutanan, dengan koleksi tanaman in-situ dan ex-situ dari dalam maupun luar negeri. Berdasarkan SK Menteri LHK No. 1055/2024, kawasan seluas 9,49 hektare ini dikelola oleh Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) dan berlokasi di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, DI Yogyakarta pada ketinggian ±900 m dpl. Berfungsi sebagai kawasan pengembangan sumber genetik, pemuliaan hutan, konservasi biodiversitas, konservasi tanah dan air, eco-wisata, serta bagian dari Cagar Biosfer Merapi–Menoreh–Merbabu, KHDTK Kaliurang dikelola dengan sistem hutan lestari untuk menunjang kegiatan litbang, pendidikan dan pelatihan, religius, dan budaya, dengan pembagian ruang ke dalam blok pemanfaatan dan blok rehabilitasi. Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiKHDTK Kaliurang beriklim tipe A dengan curah hujan tinggi, suhu rata-rata 26°C, dan ekosistem hutan hujan tropis di atas tanah vulkanik regosol dan andosol. Vegetasi kawasan didominasi koleksi pohon unggulan kehutanan berusia lebih dari 40 tahun, termasuk spesies introduksi sejak tahun 1958 dan tanaman lokal seperti Pongamia, bambu, asam londo, dan trembelu. Keanekaragaman fauna kawasan mencakup kelompok burung, mamalia, herpetofauna, dan kupu-kupu yang memanfaatkan tutupan tajuk dan ketersediaan aliran air alami dalam kawasan. Selain itu, KHDTK merupakan lokasi pemulihan ekosistem berbasis genetik pasca erupsi Merapi 2010 sekaligus berkontribusi penting dalam penyimpanan karbon untuk mitigasi perubahan iklim global. Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKHDTK Kaliurang memiliki potensi besar untuk pemanfaatan jasa lingkungan, khususnya pengembangan wisata pendidikan (eco-edu tourism) berbasis masyarakat. Ekosistem hutan yang menyerupai hutan primer, aksesibilitas yang sangat baik, serta kedekatan dengan destinasi wisata Kaliurang menjadikan kawasan ini lokasi pembelajaran lapangan ideal bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum. Kawasan juga sering dimanfaatkan untuk kegiatan lintas alam, pelatihan pramuka, penelitian, dan pembuatan film, serta berperan dalam mendukung ekonomi masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata. Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan memperkuat peran KHDTK tidak hanya bagi konservasi dan penelitian, tetapi juga bagi peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi secara berkelanjutan. 
-6.6103, 106.7617

KHDTK Litbang Kehutanan Kepau Jaya
KHDTK Litbang Kehutanan Kepau Jaya
KHDTKLKKJ
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kepau Jaya merupakan kawasan rawa gambut seluas ±1.027 ha di Desa Kepau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, yang ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan No. 74/Menhut-II/2005 dan saat ini dikelola oleh P2SEMH berdasarkan SK Menhut No. 403 Tahun 2025. Sejak awal kawasan ini dikembangkan sebagai laboratorium lapangan untuk penelitian kehutanan, terutama pengembangan vegetasi pakan lebah dan pemodelan ekosistem gambut. Meskipun dalam perjalanannya sebagian kawasan mengalami okupasi oleh oknum perusahaan dan masyarakat, KHDTK ini tetap diposisikan sebagai pusat pembelajaran nasional untuk tata kelola gambut berkelanjutan, pemulihan ekosistem, dan penguatan hubungan sosial-ekologis melalui pendekatan ko-kreasi bersama masyarakat. Dengan dukungan mandat pengelolaan terbaru, KHDTK Kepau Jaya diarahkan menjadi Model Resolusi Konflik Tenurial yang menekankan kolaborasi, edukasi, dan rekonstruksi fungsi ekologis kawasan.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSecara biofisik, KHDTK Kepau Jaya berada di atas ekosistem rawa gambut tropis dengan kedalaman 1,5–2 meter dan mencapai hingga 5 meter, menjadikannya lanskap penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi dan cadangan karbon. Vegetasi hutan sekundernya kaya jenis khas gambut, antara lain geronggang (Cratoxylum arborescens), jelutung rawa (Dyera polyphylla), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), mendarahan (Symplocos sp.), kempas (Koompassia malaccensis), terentang (Campnosperma coriaceum), serta mahang (Macaranga pruinosa) sebagai jenis pionir dominan pemulih lahan. Kantong-kantong hutan menjadi habitat bagi monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), reptil, amfibi, serta berbagai burung rawa. Kajian ekologi menunjukkan kawasan masih menyimpan cadangan karbon tinggi, mencapai 863,73 megaton, dengan potensi serapan 3.167,08 megaton—sebuah indikator kuat bahwa KHDTK Kepau Jaya sangat layak menjadi pusat penelitian restorasi gambut, konservasi karbon, dan pengembangan model rehabilitasi berbasis spesies asli.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialSebagai KHDTK Model Resolusi Konflik Tenurial, pengelolaan Kepau Jaya diarahkan pada pemanfaatan ekologis yang memberi manfaat sosial-ekonomi melalui pendekatan Strategi Jangka Benah (SJB), yaitu transformasi bertahap dari sistem lahan terdegradasi menuju agroforestry gambut yang lestari. Dua Kelompok Tani Hutan — KTH Rimba Kepau Sejahtera dan KTH Tuah Tonggak Negeri — terlibat aktif dalam pengembangan demplot geronggang, penanaman jelutung, pulai, dan meranti (Shorea sp.), integrasi sawit rakyat–agroforestry, serta budidaya lebah madu Trigona itama yang memberi nilai ekonomi tinggi sembari memperkaya vegetasi pakan lebah. Inovasi agrosilvofishery dengan jenis lokal seperti Channa striata (gabus), Anabas testudineus (papuyu), Trichogaster sp. (sepat), Pangasius sp. (patin), dan Leptobarbus hoevenii (jelawat) membuka peluang diversifikasi pendapatan masyarakat. Dengan pendekatan kolaboratif ini, KHDTK Kepau Jaya tumbuh sebagai contoh kuat bagaimana pemulihan ekologis, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penelitian terapan dapat berjalan beriringan untuk menciptakan lanskap gambut yang produktif, resilien, dan berkelanjutan.
0.3024, 101.5727

KHDTK Litbang Kehutanan Suban Jeriji
KHDTK Litbang Kehutanan Suban Jeriji
KHDTKLKSJ
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Penelitian dan Pengembangan Suban Jeriji merupakan kawasan hutan seluas ±761,98 ha yang terletak di Desa Suban Jeriji, Kecamatan Rambang Dangku/Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dan kini berada sepenuhnya di bawah pengelolaan Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 403 Tahun 2025. Kawasan ini ditetapkan untuk mendukung kegiatan penelitian, pengembangan jenis unggulan, dan produksi benih, sekaligus menjadi ruang pembelajaran lapangan bagi inovasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Meskipun dalam perjalanan pemanfaatannya sebagian areal telah mengalami okupasi oleh oknum perusahaan dan masyarakat, KHDTK Suban Jeriji tetap menjadi aset strategis karena menyimpan blok-blok lahan potensial untuk penelitian kehutanan, kebun benih, dan revitalisasi tegakan. Kawasan ini juga memiliki posisi penting sebagai laboratorium sosial-ekologis untuk penerapan model resolusi konflik tenurial, di mana pendekatan kemitraan, pemberdayaan masyarakat, dan pemulihan ekosistem dapat diintegrasikan dalam satu sistem pengelolaan yang adaptif.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSecara biofisik, KHDTK Suban Jeriji berada pada hamparan dataran bergelombang dengan riwayat kebakaran dan alih guna lahan, sehingga struktur penutupan kawasannya kini terdiri dari mosaik perkebunan karet (Hevea brasiliensis), kebun sawit rakyat (Elaeis guineensis), semak belukar, serta fragmen hutan sekunder yang masih menyimpan jenis-jenis lokal bernilai ekologis. Pada areal yang masih relatif utuh dan pada plot-plot potensial, masih dijumpai vegetasi kehutanan seperti tembesu (Fagraea fragrans), mahoni (Swietenia macrophylla), sengon (Falcataria moluccana), medang (Litsea sp.), sungkai (Peronema canescens), kayu bawang, serta rotan dan pandan hutan yang berpotensi untuk dikembangkan kembali sebagai bagian dari revitalisasi ekosistem. Sementara itu, keberadaan flora MPTS seperti jengkol, petai, mangga, dan tanaman rakyat lainnya menunjukkan karakter ekologis yang telah bercampur dengan sistem agroforestri tradisional masyarakat. Fauna yang masih dijumpai meliputi burung-burung hutan, mamalia kecil, reptil, dan herpetofauna rawa darat, meskipun habitatnya telah terfragmentasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa Suban Jeriji memiliki peluang besar untuk pemulihan tutupan hutan, pengayaan jenis lokal, dan pembangunan demplot biodiversitas sebagai bagian dari model rehabilitasi kawasan tenurial.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialSebagai KHDTK Model Resolusi Konflik Tenurial, Suban Jeriji memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendekatan kolaboratif yang menggabungkan rekonsiliasi sosial, pemulihan ekologi, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Kawasan ini menyimpan areal potensial sekitar ±71 ha yang dapat menjadi pusat penelitian dan demplot, termasuk pengembangan kayu bawang, rehabilitasi jenis lokal seperti tembesu, jelutung, geronggang, sengon, dan pulai, serta revitalisasi kebun benih dan uji jenis. Pada sisi pemberdayaan masyarakat, potensi dapat diarahkan pada agroforestry hutan–kebun, budidaya lebah kelulut (Trigona sp.), pemanfaatan HHBK seperti pandan dan buah-buahan lokal, serta pengembangan agrosilvofishery sebagai sumber mata pencaharian alternatif. Upaya pengamanan dan pengelolaan telah dilakukan melalui pemetaan partisipatif, pemasangan tanda batas, peningkatan tenaga teknis lapangan, serta fasilitasi dialog masyarakat sebagai bagian dari pendekatan penyelesaian tenurial berbasis kesejahteraan. Dengan karakter yang unik sebagai kawasan kehutanan yang telah bercampur dengan sistem kelola masyarakat, Suban Jeriji berpeluang besar menjadi contoh nasional bagaimana konversi, okupasi, dan dinamika sosial dapat diarahkan menjadi kemitraan produktif melalui tata kelola hutan yang inklusif dan berorientasi pemulihan.
-3.3981, 104.3273

KHDTK Padekanmalang
KHDTK Padekanmalang
KHDTKPM
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Padekanmalang merupakan kawasan hutan seluas ±21,54 ha yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 493 Tahun 2025 tanggal 4 September 2025, dan kini dikelola oleh Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) sebagai KHDTK pada kawasan Hutan Produksi Tetap di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kawasan yang terletak di Desa Paowan, Kecamatan Panarukan ini memiliki sejarah pengelolaan sejak tahun 1952 dan berfungsi untuk litbang kehutanan, pendidikan/diklat, religi-budaya, konservasi genetik, dan model pengelolaan hutan dataran rendah kering, didukung infrastruktur berupa warekit, peta kerja, pal batas kawasan, akses jalan, dan fasilitas lapangan Dengan mandat baru ini, P2SEMH memfokuskan pengelolaan KHDTK Padekanmalang sebagai Model Ekoeduwisata Hutan Dataran Rendah Kering melalui pengelolaan kawasan untuk penyangga pelestarian alam dan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat melalui penguatan fungsi konservasi dan wisata ilmiah.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSecara biofisik, KHDTK Padekanmalang merupakan ekosistem dataran rendah kering yang telah diperkaya sejak 1950-an dengan lebih dari 84 jenis tanaman hasil koleksi penelitian maupun penanaman, termasuk sengon buto, mimba, kepuh, asem jawa, kesambi, jati, khaya, akasia, cendana, dan araucaria Vegetasi tua dan permudaan alami yang baik memberikan struktur tegakan yang menyerupai hutan primer berskala kecil, sementara satwa liar yang tercatat meliputi landak, musang/luwak, tupai, garangan, kelelawar, beragam reptil (termasuk biawak, ular pucuk, ular kobra, ular weling, sanca kembang), amfibi, serta sedikitnya 13 jenis burung seperti elang, ayam hutan hijau, kepodang, raja udang Jawa, dan kedasih Keanekaragaman ini menjadikan kawasan berfungsi sebagai plasma nutfah, arboretum, dan lokasi pendidikan keanekaragaman hayati.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKawasan ini memiliki potensi kuat sebagai sumber benih TBT untuk jenis sengon buto, mimba, kepuh, dan asem jawa, sekaligus ruang litbang, wisata ilmiah, pendidikan, diklat kepemimpinan, forest healing, dan kegiatan budaya masyarakat seperti lintas alam dan kegiatan sekolah Masyarakat sekitar memanfaatkan hasil hutan bukan kayu terutama buah asem, biji sengon buto, dan biji kepuh yang jatuh di lantai hutan:Asem (Tamarindus indica) → dikumpulkan dan dijual ke pasar sebagai bahan bumbu dapur;Biji sengon buto (Enterolobium cyclocarpum) → dikonsumsi sebagai makanan kecil/kudapan;Biji kepuh (Sterculia foetida) → dikonsumsi sebagai camilan setelah diolah oleh masyarakat setempat;Selain manfaat ekonomi langsung tersebut, masyarakat juga terlibat dalam kegiatan pemeliharaan dan penataan kawasan, sementara proses kemitraan wisata alam sedang dirintis melalui kolaborasi P2SEMH – BUMDes Berjaya Paowan – Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo sebagai upaya memperkuat manfaat ekonomi lokal secara formal dan berkelanjutan. Dengan mandat pengelolaan baru, kawasan ini sangat potensial menjadi model penggabungan konservasi genetik, jasa lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis hutan.
-7.7134, 113.9704

KHDTK Wonogiri
KHDTK Wonogiri
KHDTKWGR
Profil dan Keberadaan KawasanKHDTK Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Wonogiri seluas ±93,34 hektare berlokasi di Dusun Seneng, Desa Sendangsari, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kawasan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 665 Tahun 2025 dan didorong sebagai KHDTK Model Pemuliaan Tanaman Hutan, dengan tujuan mampu menyediakan sumber benih unggul hasil pemuliaan untuk mendukung pembangunan hutan tanaman, rehabilitasi DAS, hingga kebutuhan industri kehutanan (HTI). Kebun benih dan plot uji keturunan berbagai jenis tanaman strategis seperti Acacia mangium, Acacia hybrid, Eucalyptus pellita, Jati, Nyamplung, Malapari, Lamtoro, Pulai, dan Bentawas telah dikembangkan sejak awal 1990-an, sebagian telah memperoleh sertifikat sumber benih. Kemitraan riset serta pemanfaatan kawasan aktif dilakukan bersama BRIN, akademisi, dan lembaga swasta, menjadikan Wonogiri sebagai laboratorium lapangan penting dalam bidang bioteknologi dan pemuliaan pohon di Indonesia.Kondisi Biofisik dan Keanekaragaman HayatiSecara ekologi, Wonogiri terletak pada zona peralihan iklim kering–subhumid dengan karakteristik lahan berbatu dan tanah dangkal, menjadikannya lokasi ideal untuk seleksi genetika pohon yang beradaptasi pada lahan marginal. Plot sumber benih menunjukkan keanekaragaman hayati tingkat jenis dan tingkat genetik yang tinggi, dengan keragaman provenans dan klon untuk mengukur performa, riap volume, resistensi penyakit, dan kandungan biomassa. Sebagian tegakan seperti E. pellita dan A. hybrid memiliki pertumbuhan volume hingga ±50 m³/ha/tahun, sementara Nyamplung dan Malapari bernilai strategis untuk bioenergi, biofuel, dan farmasi. Struktur tegakan bertajuk rapat memberikan kontribusi signifikan terhadap simpanan karbon dan mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, diperkuat dengan pendanaan program RBC tahun 2025–2027 untuk penguatan sistem perlindungan ekologis, inventarisasi cadangan karbon, dan restorasi plot prioritas.Potensi Pemanfaatan dan Peran SosialKHDTK Wonogiri memiliki dua peran kunci: sebagai hub inovasi pemuliaan tanaman hutan dan sebagai katalis penguatan sosial-ekonomi masyarakat sekitar. Produksi benih unggul berpotensi menjadi sumber PNBP dan mendukung pasar benih nasional untuk industri HTI maupun rehabilitasi lahan kritis. Di tingkat lokal, keberadaan Kelompok Tani Hutan (KTH) mendorong pemanfaatan ruang kelola sosial melalui agroforestry dan budidaya madu, sekaligus pelibatan masyarakat dalam perlindungan hutan dan pengelolaan sumber benih. Kawasan juga dioptimalkan untuk pendidikan dan pelatihan (praktikum perguruan tinggi, kunjungan ilmiah BRIN, CIFOR-IPB, dan universitas), menjadikannya pusat pembelajaran terbuka mengenai genetika pohon di kawasan hutan produksi. Ke depan, peluang pengembangan meliputi pasar benih unggul skala nasional, kerjasama riset lanjutan BRIN, PT. Tirta Utama, pengembangan demplot agroforestry edukatif, serta peningkatan kapasitas KTH agar manfaat ekonomi masyarakat dapat sejalan dengan keberlanjutan ekologi dan produktivitas hutan tanaman.
-7.9621, 110.9576